Sunday, November 18, 2012

Teori Psikolingguistik Kognitif

Teori Kognitif
 
Kognisi dapat diartikan sebagai proses memahami sesuatu yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan (Alimin, 2008). Dimana pemahaman tersebut  diperoleh melalui proses yaitu proses sensoris dan persepsi (visual, auditif, kinestetk, dan taktual). Proses itu sendiri terjadi melalui suatu struktur kognitif yang disebut skemata.

Jean Piaget menyebut struktur kognitif  sebagai skemata (Schemas), yaitu kumpulan dari skema-skema. Seorang individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respons terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya skemata ini. Skemata ini berkembang secara kronologis, sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya dan berlangsung terus-menerus melalui adaptasi dengan lingkungannya. Proses terjadinya adaptasi dari skemata yang telah terbentuk dengan stimulus baru tersebut dilakukan dengan dua cara, yaitu asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi adalah proses “kognitif di mana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep, atau pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada di dalam pikirannya” (Suparno, 2001 dalam Indriyani, 2011). Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Menurut Wadsworth dalam (Suparno, 2001:22) asimilasi tidak menyebabkan perubahan skema, tetapi memperkembangkan skema. Sebagai contoh, seorang anak yang baru pertama kali melihat harimau maka ia akan menyebut harimau itu sebagai kucing besar, karena ia baru memiliki konsep kucing yang sering dilihatnya. Ia memiliki konsep kucing dalam skemanya dan ketika ia melihat harimau untuk pertama kalinya, maka konsep kucinglah yang paling dekat dengan stimulus.

Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada.  Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Contoh seperti di atas, untuk pertama kalinya anak akan menyebut harimau dengan sebutan kucing atau kucing besar. Melalui proses sensori dan persepsi maka skema yang sudah ada terjadi perubahan yaitu adanya penambahan skema tentang harimau. anak menjadi memahami bahwa harimau itu bukan kucing tetapi sebagai konsep baru bahwa ada binatang yang disebut harimau sehingga tersimpan dalam pemahamannya tentang harimau.

Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistim kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap berikutnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisi dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas. Sehingga “perkembangan bahasa seorang anak akan semakin berkembang sesuai dengan kematangan mentalnya” (Lerner, 1988:317).

Pembelajaran bahasa dalam perspektif teori kognitif adalah menciptakan interaksi antara anak dengan berbagai pengalaman belajar, pengalaman berbahasa, dan menciptakan lingkungan yang mendorong anak untuk memperoleh pemahaman bahasa. Kuncinya adalah memulai dari apa yang sudah anak ketahui dan secara aktif menciptakan pembelajaran yang membangun pemahaman. Sehingga perkembangan bahasa dan kemampuan pemahamannya akan berkembang secara bertahap sejalan dengan perkembangan pengalaman berbahasanya.

Teori Psikolingguistik Behaviorisme

TEORI BEHAVIORISME

Salah satu dari bidang ilmu yang banyak mempengaruhi linguistik ialah psikologi. Mereka yang mengkaji mengenai teori behaviorisme ini ialah sarjana psikologi yang beranggapan bahawa pemerolehan sesuatu lakuan terjadi melalui ulangan sesuatu lakuan. Teori psikologi ini menyelidik lakuan-lakuan binatang. Eksperimen ini tidaklah dapat disebut satu persatu tetapi cukuplah bagi kita sekadar membincangkan teori behaviorisme ini yang bersangkutan dengan kegunaannya dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa. Walau bagaimanapun, teori behaviorisme ini tidaklah pula membuat tuntutan yang khusus mengenai bagaimana bahasa dikuasai. Mereka hanya menganggap bahawa kemahiran bertutur itu juga merupakan satu lakuan manusia, sama seperti lakuan lain. Jadi bagaimana lakuan lain itu dipelajari, maka begitulah juga lakuan bahasa dipelajari. Kajian mereka hanya ditumpukan kepada lakuan binatang. Kesimpulan dari kajian ini dianggap akan dapat diterima sebagai sah untuk sebarang lakuan manusia.

Teori Psikolingguistik Noam Chomsky

Noam Chomsky
Tokoh yang mempelopori teori psikolinguistik ialah Noam Avram Chomsky pada tahun 1957. Tokoh ini
telah membawa revolusi dalam bidang linguistik, khususnya psikolinguistik. Tokoh unggul ini berpendapat bahawa otak manusia dipraprogramkan oleh mekanisme kognitif yang disebut sebagai Peranti Pemerolehan Bahasa atau Language Acquistion Device (LAD). Alat ini telah membolehkan individu untuk menjana ayat gramatis dengan cara sejagat atau bebas budaya. Chomsky telah memperkenalkan beberapa perkara melalui teori kod kognitifnya.  
 
Menurut Chomsky, setiap manusia yang dilahirkan di dunia sudah ada kecekapan untuk berbahasa apabila sampai waktunya. Potensi berbahasa ini sebenarnya ialah sifat akal, iaitu yang bersifat semula jadi. Dengan yang demikian, akalnya membolehkan seseorang untuk menerbitkan perkataan atau ayat yang tak terkira. Chomsky juga berhujah bahawa peringkat permulaan belajar bukan sahaja terhad kepada operasi rangsangan dan tindak balas, malah proses kognitif turut terlibat dalam proses pembelajaran tersebut. Tanpa peranan kognitif perkembangan bahasa terbatas pada hal yang dialami sahaja.

Seterusnya, beliau berpendapat bahawa bahasa bersifat kreatif. Penghasilan sesuatu bahasa itu tidak terbatas kepada objek dan peristiwa atau pengalaman yang dapat digarap oleh perilaku semata-mata. Ujar beliau, semua komponen bahasa berkembang secara kreatif, mengimbau atau melangkau batasan pengalaman naluri, iaitu rangsangan dan tindak balas. Oleh sebab daya kreativiti itu, maka setiap kalimat seseorang mendengar, bertutur, membaca dan menulis adalah sesuatu yang baharu. Chomsky berpendapat bahawa bahasa yang dipelajari melalui satu set rumus yang digunakan untuk menerbitkan kalimat baharu itu. Di sini beliau memperkenalkan dua istilah seperti berikut:
i.   Kompetens
ii.  Prestasi
 
Chomsky menjelaskan bahawa setiap penutur dan pendengar mempunyai kompetens dan prestasi. Kompetens dapat diertikan sebagai sistem rumus yang mampu menghasilkan kalimat yang tidak terbatas. Dengan kata lain, kompetens ialah pengetahuan penutur mengenai bahasanya. Ia merupakan unsur dalaman dan berada di dalam otak. Sementara prestasi pula dapat diertikan sebagai bunyi-bunyi yang dilafazkan. Bunyi-bunyi ini bermakna dan dapat difahami oleh pendengarnya. Berbaze dengan kompetens ia terletak di bahagian luar otak.

Seterusnya, Chomsky menerangkan bahawa tatabahasa generatif dalam otak diperoleh oleh penutur daripada otaknya sendiri. Ini adalah kerana penutur telah pun mempunyai tatabahasa sejagat yang diperoleh secara semula jadi. Semasa seseorang kanak-kanak itu membesar, dia sudah tentu akan dipengaruhi oleh persekitaran. Setelah berumur lima tahun, kanak-kanak itu akan membentuk tatabahasa generatif dalam otaknya. Dengan menghubungkan tatabahasa sejagat dan pengalaman daripada persekitarannya, kanak-kanak itu akan dapat menghasilkan tatabahasa generatif pada taraf kompetens. Setelah kanak-kanak memperoleh kompetens, dia akan mempunyai prestasi.
 
Kompetens seumpama ini seterusnya menghasilkan prestasi. Kemudian prestasi ini pula akan menghasilkan elemen seperti ayat-ayat yang didengar oleh pendengar, iaitu dari telinga ke dalam otak dan mengulangi pula proses yang sama apabila pendengar bertutur.
 
Teori linguistik Chomsky menekankan bahagian dalam bahasa yang berupa proses mental yang dapat menghasilkan bahasa tanpa perangsang daripada luar. Teori ini memakai skema S-O-R (stimulus-organism-response) yang menganggap bahasa sebagai pengetahuan yang dihasilkan oleh sesuatu dalam otak dan saraf setelah menerima unsur-unsur dalam bentuk perangsang daripada pancaindera.